Gerhana Matahari Total 2019

Gerhana Matahari Total 2019

Tangga 2/7/2019,  gerhana matahari dilaporkan akan muncul di langit Samudera Pasifik, Chile, dan Argentina. Sayangnya, fenomena langit ini tidak bisa dilihat di Indonesia.

Peristiwa gerhana matahari total ini hanya bisa dilihat di daerah Amerika, mulai dari La Serena di Chile sampai bagian selatan Buenos Aires di Argentina.

Gerhana tidak dijelaskan secara eksplisit. Alquran hanya menyebut dalam Surat Yunus Ayat 5 yang menegaskan bahwa Allah yang membuat matahari bersinar dan bulan bercahaya dengan ditetapkan manzilah sebagai tempat peredaran untuk keduanya.

Sebagai manusia diharapkan tahu bilangan tahun dan perhitungan untuk waktu. Itu menjadi tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang-orang yang mengetahuinya. Bila Al quran tidak menyinggungnya secara eksplisit, tetapi persoalan gerhana dijelaskan secara jelas dalam hadits.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda yang kemudian dimuat dalam hadis Al Bukhari Nomor 1043 dan Muslim Nomor 915.

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua ayat (tanda) dari ayat-ayat Allah (yang tersebar di alam semesta). Tidak akan terjadi fenomena gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoa dan shalat kepada Allah sampai (matahari atau bulan) tersingkap lagi.”

Sahabat Rasulullah Abu Musa Al Asya’ari pernah mengatakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda bila Allah memberikan rasa takut kepada hambanya dengan tanda-tanda berupa gerhana. Maka, bila kamu melihatnya, segera berdzikir, mengingat kebesaran Tuhan, berdoa dan meminta ampun.

Menurut laporan CNN yang dikutip Selasa (2/7/2019), jika Anda tak bisa menyaksikan langsung gerhana matahari total itu, fenomena tersebut bisa dilihat melalui live streaming atau tayangan langsung yang disediakan oleh Exploratorium Museum San Fransisco dari National Science Foundation’s Cerro Tololo Observatory di Chile.

Live streaming akan dimulai pukul 00.23 waktu Pasifik dilanjutkan dengan paparan informasi dari ahli dan ilmuwan NASA pada pukul 01.00 waktu Pasifik.

Indonesia memiliki perbedaan waktu 11 jam, jadi fenomena ini bisa dilihat pada 3 Juli sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WIB. Sejumlah media asing menyiarkan detik-detik terbentuknya gerhana matahari total itu via live streaming.

Selain Exploratorium Museum San Fransisco, The European Southern Observatory (ESO) juga menayangkan live streaming di La Silla Observatory, dekat gurun Atacama di Chile.

Menurut informasi yang beredar, gerhana sebagian dimulai pada pukul 16.55 UTC atau Selasa 2 Juli pukul 23.55 WIB.

Gerhana matahari total dimulai pada 3 juli pukul 01.01 WIB dan puncaknya terjadi pada 3 Juli 2019 pukul 02.22 WIB.

Gerhana matahari total akan berakhir pada 3 Juli 2019 pukul 03.44 WIB, sedangkan gerhana matahari sebagian berakhir pada 3 Juli 2019 pukul 04.50 WIB.

foto oleh ahmad nuryadi di ambil dikemanggisan jakbar 9/3/16
Akal, apa artinya?

Akal, apa artinya?

Secara bahasa atau Lughowi, akal merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab,’aqala yang berarti mengikat atau menahan, namun kata akal sebagai kata benda (mashdar) dari ‘aqala tidak terdapat dari Al-Qur’an, akan tetapi kata akal sendiri terdapat dalam bentuk lain yaitu kata kerja (f’il mudhorik).

Hal itu terdapat dalam al-Qur.an sebanyak empat puluh sembilan, antara lain iyalah ta’qilun dalam surat al-Baqaroh ayat 49; ya’qilun sural al-Furqan ayat 44 dan surah yasin ayat 68; na’qilu surat al-Mulk ayat 10; ya’qiluha surat al-Ankabut ayat 43; dan aqiluha surt al-Baqrah ayat 75.disisi lain dalam al-Qur’an selain kata ‘aqala yang menunjukan arti berfikir adalah nazhara yang berarti melihat secara abstrack. Sebanyak 120 ayat; tafakara yang berarti berfikir terdapat pada 18 ayat; faqiha yang berarti memahami sebanyak 20 ayat; tadabara sebanyak 8 ayat dan tadzakara yang berarti mengingat sebanyak 100 ayat. Semua kata tersebut sejatinya masih berkaitan dengan pengertian dari kata akal tersebut.

Dalam kamus bahasa Arab kata ‘aqala berarti mengikat atau menahan. Maka tali pengikat serban, yang di pakai di Arab Saudi memiliki warna beragam  Hafizh Dazuki, Ensiklopedi Islam. (Jakarta: PT Ichtar Baru Van Hoeve, 1994), h.98. yakni hitam dan terkadang emas, disebut ‘iqala; dan menahan orang di dalam

penjara i’taqala dan tempat tahanan mu’taqal. Dalam komunikasi atau lisan orang Arab.

Dijelaskan bahwa kata al’aqal berati menahan dan al-‘aqil ialah orang yang menahan diri dan mengekang hawa nafsu. Banyak makna yang diartikan tentang ‘aqala . sejatinya asli kata ‘aqala ialah mengikat dan menahan dan orang ‘aqil di zaman Jahiliyah dikenal dengan hamiyah atau darah panas, maksudnya ialah orang yang dapat menahan amarahnya dan oleh karenanya dapat mengambil sikap dan tindakan yang berisi kebijaksanaan dalam mengatasi masalah.

Lain halnya bagi Izutzu. ‘aqal di zaman Jahiliyah diartikan kecerdasan praktis. Bahwa orang yang berakal mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah dan di setiap saat dihadapkan dengan masalah ia dapat melepaskan diri dari bahaya yang dihadapinya.

Dengan demikian makna dari ‘aqala ialah mengerti, memahami dan berfikir. Secara comon sense kata-kata mengerti, memahami dan berfikir, semua hal tersebut berpusat di kepala. Hal ini berbeda dari apa yang terdapat dalam al- Qur’an dalam surat al-Hajj, bahwa pemikiran, pemahaman dan pengertian bukan berpusat di kepala tetapi di dada. Bagi izutzu kata al-‘aqal masuk kedalaam wilayah flsafat Islam dan mengalami perubahan dalam arti. Dan dengan pengaruh masuknya filsafat Yunani Harun Nasution. Akal dan Wahyu dalam Islam (Jakarta: UI Press, 1986), h. 6.

Thosihiko Izutzu, God and Man in the Qur’an, (Tokio: Keio University, 1986), h. 65.

Lihat Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, h. 7.

kedalam pemikiran Islam, maka kata al-‘aqal mengandung arti yang sama dengan kata yunani, nous. Falsafat Yunani mengartikan nous sebagai daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia.

Dalam perkembangan zaman moderen pengertian tersebut diyakini bahwa pemahaman dan pemikiran tidak lagi melalui al-qalb di dada tetapi melalui al-‘aql di kepala.

Adapun seacara istilah akal memiliki arti daya berfikir yang ada dalam diri manusia dan merupakan salah satu dari jiwa yang mengandung arti berpikir. Bagi Al-Ghazali akal memiliki beberapa pengertian; pertama, sebagai potensi yang membedakan dari binatang dan menjadikan manusia mampu menerima berbagai pengetahuan teoritis. Kedua, pengetahuan yang diperoleh seseorang berdasarkan pengalaman yang dilaluinya dan akan memperhalus budinya. Ketiga, akal merupakan kekuatan instink yang menjadikan seseorang mengetahui dampak semua persoalan yang dihadapinya sehingga dapat mengendalikan hawa nafsunya.

Wallahu’alam

Bermain itu belajar

Bermain itu belajar

sangQolbu | Melihat masa kecil yang terbayang adalah masanya bermain, yang dimaksud dengan bermain adalah berbuat sesuatu untuk menyenangkan hati (dengan alat tertentu atau tidak). Dengan bermain disebabkan karena adanya sisa kekuatan di dalam dirinya yang sedang berkembang dan tumbuh. Produksi kekuatan dalam diri anak itu melebihi apa yang dibutuhkan lahir dan batin. Asyiknya anak-anak bermain kadang selaku orang tua sempat lalai mengawasi, bahkan cenderung lebih banyak melarang anak dengan teguran yang kurang simpatik dengan bahasa “JANGAN NAKAL NAK !”.

pada usia balita, terutama periode umur 2 sampai 5 atau 6 tahun adalah masa eksplorasi. Keingintahuan anak sangat besar dan lebih aktif dari sebelumnya.  Masa-masa ini penting membangun sikap kemandirian untuk mengekspresikan pikiran dan tindakan (autonomy) anak, serta membangun sikap penuh inisiatif dan kreatifnya. Semuanya ini adalah pondasi penting untuk memupuk rasa percaya diri anak.

Sayangnya, banyak orangtua yang tidak tahu bagaimana menghadapi perangai alami anak-anak usia tersebut. Keinginan untuk mencoba hal-hal yang baru, kelincahan anak yang luar biasa yang sering merepotkan orangtuanya, sering dianggap sebagai suatu kenakalan. Misalnya, seorang anak usia 3 tahun yang begitu gembira mendapatkan ilmu baru bahwa ketika gelas dilempar akan jatuh ke bawah dan pecah, tetapi orangtuanya justru memarahinya. Atau, seorang anak yang membongkar mainannya karena ingin tahu bagaimana bagian benda-benda bisa tersusun menjadi sebuah rangkaian mainan akan membuat orangtuanya marah.

Akibatnya, kata-kata “jangan”, “tidak boleh”, dan ancaman sering dilontarkan oleh para orangtua. Bahkan, banyak anak yang sudah mendapatkan makian dan pukulan. Cara yang salah dalam mendisiplinkan anak seperti ini akan membunuh rasa percaya diri anak karena anak akan takut mengembangkan dan mengekspresikan pikiran dan pendapatnya (shame/doubt). Rasa percaya diri anak akan tereduksi bila anak mengalami ketakutan besar untuk bertindak dan mengambil risiko (guilt), sehingga akan menjadi pribadi minder, apatis, bahkan agresif.

Pengalaman negatif yang dialami semasa kanak-kanak akan direkam otak dan terbawa sampai dewasa, karena 90% perkembangan otak terjadi pada usia di bawah 7 tahun. Jadi, apabila ingin anak mempunyai rasa percaya diri untuk dapat menjelajahi kehidupannya kelak ketika dewasa, berikan sebanyaknya pengalaman positif, yaitu dengan menggantikan kata-kata “jangan” atau “tidak boleh”, dengan kata-kata yang dapat membangun rasa percaya dirinya. Berikut ini beberapa alternatif untuk mengganti kata “jangan”:

  • Ubahlah kata-kata Anda. Anak akan memberikan respon yang lebih baik bila kita menggunakan kata-kata positif. Daripada berteriak, “Awas, jangan main bola di ruang tamu!”, kita dapat berkata, “Ayo main bola di halaman, karena kalau di dalam ruangan bisa kena kaca jendela, nanti bisa pecah.” Atau, “Tidak boleh mencoret-coret meja!”, kita dapat memberikan kertas, “Kalau menggambar bisa di atas kertas, karena meja bisa kotor dan sulit untuk membersihkannya.” Apabila anak dalam keadaan bahaya sehingga memerlukan reaksi cepat, kita dapat menggantikan kata-kata spontan “Stop, ada mobil!”, “Panas sekali” “Bahaya.”
  • Berikan pilihan. Pada periode ini anak ingin mengekspresikan keinginannya atau ingin memegang kendali. Misalnya, anak ingin memilih baju yang tidak tepat dengan situasi (memakai baju olahraga untuk pergi ke pesta), orangtua bisa memberikan tiga pilihan baju yang tepat, dan biarkan anak memilihnya.

    Apabila anak ingin makan permen sebelum waktu makan malam, orangtua bisa memberikan pilihan, “Mau permen cokelat setelah makan malam, atau permen rasa jeruk setelah makan malam?”

    Apabila anak sedang asyik bermain dan Anda ingin menyuruhnya mandi, berikan pilihan “Nak…mau mandi 5 menit atau 10 menit lagi?”

    Dengan cara ini anak merasa dihargai pendapatnya dan merasa mampu untuk mengambil keputusan dan memegang kendali, walaupun sebetulnya ia sedang mematuhi perintah orangtuanya.

  • Siapkan lingkungan agar terhindar dari kata-kata “jangan”. Orangtua yang mempunyai anak balita harus menyiapkan lingkungan yang aman bagi anak, sehingga kata-kata “jangan” tidak akan terlontar. Misalnya, pindahkan benda-benda yang berbahaya bagi anak dan berikan lingkungan yang membuat anak bebas bereksplorasi secara aman.
  • Jangan pedulikan hal-hal yang kecil. Biarkan anak bereksplorasi dan mencoba apa saja. Sejauh hal tersebut tak membahayakan dan dapat membuat anak gembira dan penuh semangat, sebaiknya jangan dilarang. Misalnya, mereka ingin bermain pasir atau tanah, jangan takut kotor, karena mereka bisa mandi dan ganti baju. Atau, biarkan anak ingin tidur dengan baju barunya untuk ke pesta, karena sedang gembira mendapatkan baju baru.
  • Ubahlah persepsi Anda terhadap kelakuan anak. Kelakuan mereka yang terkadang membuat orangtua kesal (misalnya melempar gelas, merusak mainan) sebagai tindakan kreatif karena sedang mencoba sesuatu. Anda bisa menerangkan pada mereka bahwa gelas yang pecah itu harganya mahal, kasihan Ayah yang bekerja keras untuk mencari uang. Atau, belilah mainan yang tak terlalu mahal, dan siapkan diri Anda bahwa mainan tersebut akan dibongkar oleh anak. Semakin besar anak, semakin mengerti ia untuk tidak merusak mainannya.
  • Berkata “jangan” secara tepat. Tentu saja kata “jangan” masih perlu dipakai apabila memang menyangkut perilaku anak yang serius. Apabila memang diperlukan katakan dengan tegas, tapi tak dengan bentakan. Misalnya, “Tidak boleh menarik ekor kucing, kasihan kucingnya kesakitan.” Berikan pujian apabila ia merespon larangan Anda, misalnya dengan senyum atau pelukan, “Bunda senang, ternyata kamu mau mendengarkan Bunda.”

Semoga kita lebih senang lagi melihat anak yang cerdas dengan kenyamanan bermain dengan didampingi oleh orang tuanya.