Secara bahasa atau Lughowi, akal merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab,’aqala yang berarti mengikat atau menahan, namun kata akal sebagai kata benda (mashdar) dari ‘aqala tidak terdapat dari Al-Qur’an, akan tetapi kata akal sendiri terdapat dalam bentuk lain yaitu kata kerja (f’il mudhorik).

Hal itu terdapat dalam al-Qur.an sebanyak empat puluh sembilan, antara lain iyalah ta’qilun dalam surat al-Baqaroh ayat 49; ya’qilun sural al-Furqan ayat 44 dan surah yasin ayat 68; na’qilu surat al-Mulk ayat 10; ya’qiluha surat al-Ankabut ayat 43; dan aqiluha surt al-Baqrah ayat 75.disisi lain dalam al-Qur’an selain kata ‘aqala yang menunjukan arti berfikir adalah nazhara yang berarti melihat secara abstrack. Sebanyak 120 ayat; tafakara yang berarti berfikir terdapat pada 18 ayat; faqiha yang berarti memahami sebanyak 20 ayat; tadabara sebanyak 8 ayat dan tadzakara yang berarti mengingat sebanyak 100 ayat. Semua kata tersebut sejatinya masih berkaitan dengan pengertian dari kata akal tersebut.

Dalam kamus bahasa Arab kata ‘aqala berarti mengikat atau menahan. Maka tali pengikat serban, yang di pakai di Arab Saudi memiliki warna beragam  Hafizh Dazuki, Ensiklopedi Islam. (Jakarta: PT Ichtar Baru Van Hoeve, 1994), h.98. yakni hitam dan terkadang emas, disebut ‘iqala; dan menahan orang di dalam

penjara i’taqala dan tempat tahanan mu’taqal. Dalam komunikasi atau lisan orang Arab.

Dijelaskan bahwa kata al’aqal berati menahan dan al-‘aqil ialah orang yang menahan diri dan mengekang hawa nafsu. Banyak makna yang diartikan tentang ‘aqala . sejatinya asli kata ‘aqala ialah mengikat dan menahan dan orang ‘aqil di zaman Jahiliyah dikenal dengan hamiyah atau darah panas, maksudnya ialah orang yang dapat menahan amarahnya dan oleh karenanya dapat mengambil sikap dan tindakan yang berisi kebijaksanaan dalam mengatasi masalah.

Lain halnya bagi Izutzu. ‘aqal di zaman Jahiliyah diartikan kecerdasan praktis. Bahwa orang yang berakal mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah dan di setiap saat dihadapkan dengan masalah ia dapat melepaskan diri dari bahaya yang dihadapinya.

Dengan demikian makna dari ‘aqala ialah mengerti, memahami dan berfikir. Secara comon sense kata-kata mengerti, memahami dan berfikir, semua hal tersebut berpusat di kepala. Hal ini berbeda dari apa yang terdapat dalam al- Qur’an dalam surat al-Hajj, bahwa pemikiran, pemahaman dan pengertian bukan berpusat di kepala tetapi di dada. Bagi izutzu kata al-‘aqal masuk kedalaam wilayah flsafat Islam dan mengalami perubahan dalam arti. Dan dengan pengaruh masuknya filsafat Yunani Harun Nasution. Akal dan Wahyu dalam Islam (Jakarta: UI Press, 1986), h. 6.

Thosihiko Izutzu, God and Man in the Qur’an, (Tokio: Keio University, 1986), h. 65.

Lihat Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, h. 7.

kedalam pemikiran Islam, maka kata al-‘aqal mengandung arti yang sama dengan kata yunani, nous. Falsafat Yunani mengartikan nous sebagai daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia.

Dalam perkembangan zaman moderen pengertian tersebut diyakini bahwa pemahaman dan pemikiran tidak lagi melalui al-qalb di dada tetapi melalui al-‘aql di kepala.

Adapun seacara istilah akal memiliki arti daya berfikir yang ada dalam diri manusia dan merupakan salah satu dari jiwa yang mengandung arti berpikir. Bagi Al-Ghazali akal memiliki beberapa pengertian; pertama, sebagai potensi yang membedakan dari binatang dan menjadikan manusia mampu menerima berbagai pengetahuan teoritis. Kedua, pengetahuan yang diperoleh seseorang berdasarkan pengalaman yang dilaluinya dan akan memperhalus budinya. Ketiga, akal merupakan kekuatan instink yang menjadikan seseorang mengetahui dampak semua persoalan yang dihadapinya sehingga dapat mengendalikan hawa nafsunya.

Wallahu’alam

566 Total Views 10 Views today

Comments

comments